Minggu, 01 Maret 2009

JEPARAKU OH.....


Narasi Perempuan dan Sejarah Jepara

Pembacaan terhadap sejarah perempuan sering dilihat sebagai narasi tekstual dengan melibatkan pandangan dikotomis antara skripturalis dan idealis (tradisionalis) (hal 44, Kompas, 16/5/07).

Kaum skripturalis lebih melihat perempuan sebagai "teks" yang cara melihatnya disyaratkan melalui cara-cara hermeneutika dan pewacanaan. Sebaliknya, kaum idealis (tradisionalis) melihat perempuan sebagai "tekstur", di mana perempuan dideskripsikan sebagai anyaman anatomi "teks" dan "konteks" yang tidak dapat ditempatkan pada sembarang tempat dan waktu ("Swara", hal 35, Kompas, 14/5/07).

Bagaimana perempuan ketika posisinya ditempatkan dalam "konteks" (construct), di mana melihat perempuan sebagai pola-pola multidimensional?

Perempuan Jepara dalam konteks

Rudolf Mrazek (2002) pernah mendeskripsikan, Jepara sejak pembukaan awal Jalan Daendels tahun 1808 yang disebut sebagai groote postweg (jalan raya besar) dan dibukanya jalur kereta api (trem uap) antara Semarang-Demak-Kudus-Juwana pada tahun 1883-an, aktivitas ekonominya semakin dinamis.

Banyak kaum perempuan setengah baya dan tua sebagai pelakunya. Kaum laki-laki hanya mengantar di gang-gang jalan dan membantu menaikkan dagangan ke atas dokar atau andong.

Namun, pada masa berikutnya, komunalisasi tanah-tanah di Jepara diperkirakan memiliki dampak yang cukup besar bagi hancurnya tata ekonomi, ditambah masa paceklik (kekeringan yang panjang) dan pagebluk (berbagai penyakit tanaman dan manusia muncul).

Banyak di antara kaum perempuan larut dalam ganas dan hedonisme kota sehingga mereka harus bertempat tinggal di kampung-kampung kota dan tanah-tanah lapang di dekat stasiun maupun pelabuhan dengan membuat tempat-tempat berukuran sekitar 4 m x 4 m dengan kondisi kumuh dan memprihatinkan (HF Tillema: 1915-1916). Tidak jarang, mereka terlibat dalam praktik prostitusi.

Berdasarkan sumber lisan, pada masa Portugis di daerah perkebunan di Jepara utara juga banyak praktik prostitusi dan pergundikan, juga perkawinan silang antara laki-laki Portugis dan perempuan penduduk asli.

Bukti-bukti sekunder dapat dilacak pada tipologi masyarakat keturunan Portugis sekitar Sambungoyot dan lereng Gunung Danaraja (SP Gustami: 2000; Thohir: 2006). Pada masa Belanda, banyak perekrutan pekerja perempuan di perkebunan tebu, kopi, dan karet di daerah Balong, dekat Keling, pada dekade berikutnya.

Laporan Belanda yang berkaitan dengan praktik prostitusi dan pergundikan di Jepara sangat sedikit. Perceraian yang disinyalir sering terjadi di daerah Krawang, Cirebon, dan Batavia, jarang muncul di Jepara (Boomgaard: 1989). Sampai pada masa kemerdekaan, masyarakat Indies yang menjadi bukti perilaku pergundikan (per-nyai-an) pada zaman Belanda belum ditemukan, berbeda dengan daerah Semarang, Batavia, dan Surabaya.

Pada masa krisis 1930-an, banyak buruh perempuan industri tenun, buruh mebel, dan keramik yang diberhentikan. Namun, bersamaan dengan itu, banyak bermunculan warung dan pasar desa yang merespons pembangunan infrastruktur yang ada (Akhyat: 1997; Fernando: 1996).

Salah satu catatan penting, ternyata krisis 1930 itu membuat banyak petani Jepara melancong dan mengembara sambil mencari pekerjaan. Pada mulanya kaum lelaki saja, tetapi kemudian diikuti perempuan dan anak-anak. Hiburan para pengembara ini biasanya minum candu, berjudi, dan ronggeng yang menggairahkan (SP Gustami: 2000).

Hadirnya pemain ronggeng, taledhek atau ledhek di Jepara, dan praktik pergundikan, serta prostitusi sangat kuat diduga bermunculan bersamaan dengan proses "involusi" ekonomi pertanian dan juga munculnya gejala urbanisasi akibat jaringan ekonomi desa-kota yang semakin intensif.

Praktik itu ada yang dilakukan di sekitar perkebunan tebu, kopi, dan pada masa berikutnya di perkebunan karet, tetapi juga dilakukan di pelabuhan dan Stasiun Tawang Semarang ketika pola urbanisasi semakin intensif (Ingleson: 1986).

Kemunculan prostitusi, sebagaimana dijelaskan Thohir (2006) atau dengan bahasa lokal sering disebut cah nakal (perempuan nakal), saat ini justru terjadi pada saat perkembangan ekonomi Jepara menunjukkan peningkatan cukup dramatis, yaitu ketika ekonomi daerah sedang mengalami booming.

Di sisi lain, muncul gejala pembongkaran citra tentang belenggu perempuan dengan hadirnya pelaku ekonomi perempuan justru dari golongan masyarakat yang dianggap paling bias jender, yaitu istri dan keluarga pesantren.

Semakin tingginya pelibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi merupakan proses domestifikasi perempuan yang gagal dalam konteks Jepara. Dengan kata lain, Neo-Kartinian telah lahir.

"Neo-Kartinian"

Keberadaan tokoh perempuan dalam latar Jepara, seperti RA Kartini, bukan hanya karena keterpaksaan kesejarahan, tetapi juga dihadirkan dalam sejarah.

Pernyataan awal mengisyaratkan tokoh legendaris itu adalah legenda yang dibungkus sejarah. Pengabsahannya hanya pada saat "politik ingatan" dibutuhkan. Maka, muncul upacara, ritual, dan simbol untuk menandai hadirnya sejarahnya.

Pada pernyataan kedua, tokoh legendaris itu adalah bagian dari sejarah dan sekaligus sebagai pembuat sejarah. Pada konteks ini, kehadirannya kemudian menjadi bagian atau seluruhnya dari sebuah sejarah.

Historisisme kemudian menjadi penting dan tidak hanya sekadar historis. Masa lalu adalah masa kini, masa kini adalah masa lalu yang berproses.

Neo-Kartinian akan melihat posisi perempuan yang tidak sekadar sebagai pleroma sejarah (pemenuh sejarah), tetapi juga membukakan mata dunia tentang perempuan dan sejarahnya.

Disadur: Abi El Muhlis 23/02/09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar